Televisi Indonesia

“Jika sistemnya baik tapi manusianya tidak baik, maka manusia itu justru akan mengubah sistem dalam pelaksanaannya. Sedangkan jika sistem yang ada tidak baik tetapi faktor manusianya baik, maka si manusia itu yang malah akan memperbaiki sistem.” Roeslan Abdulgani, mantan menteri luar negeri RI tahun 1956-1959.

Putri kedua seorang teman yang tinggal di negara Selandia Baru mengungkapkan keheranannya melihat saya yang masih muda (usia 17 tahun plus) asik ber-chatting ria dengan ibundanya pada saat dia beserta saudaranya yang lain sedang asik menyaksikan Olympic game yang sedang diselenggarakan di Yunani.

Dengan berat hati saya jawab pertanyaannya bahwa tidak ada satupun stasiun TV Indonesia yang membeli hak siar olimpiade. Entah apa yang dipikirkan bocah berusia 14 tahun itu ketika membaca jawaban saya, kalauo tidak salah dia hanya menjawab ”ic”.

Adapun alasan mengapa stasiun TV kita tidak membeli hak siar karena pertimbangan keuntungan. Menurut mereka pemirsa Indonesia tidak menyenangi acara multievent, tapi menyenangi acara single event seperti pertandingan sepak bola Euro 2004 yang lalu, sehingga tujuan bisnis utama yaitu uang, tidak akan didapat bila harus membeli hak siar acara multievent ini.

Praktisi pertelevisian kita adalah contoh keadaan kita, betapa kita telah menjadi negara kapitalis sejati, secara tidak sadar mungkin. Jika kita tengok negara-negara yang aslinya memang kapitalis, untuk urusan kepentingan mendidik anggota masyarakatnya mereka rela mengeluarkan dana besar, seperti membeli hak siar olimpiade dan mengirim beberapa wartawan peliput, walaupun negaranya tidak menjagoi salah satu cabang olah raga dalam event tersebut. Contohnya negara teman saya ini, saya lihat di koran negaranya belum mendapatkan perolehan medali satupun, lebih beruntung kita yang untuk sementara meraih medali emas, perak dan perunggu masing-masing 1 medali.

Mungkin pemerintah negara Selandia Baru berpikir, walaupun tidak ada satupun warganya yang menjadi juara dunia, tapi dengan disiarkannya pesta olahraga dunia itu akan menjadi suatu sarana untuk menyemangati para warganya untuk meningkatkan prestasi. Contoh lain negara kapitalis yang tidak membabi buta menerapkan prinsip sistem ekonominya adalah Jerman dan Swiss yang menyelenggarakan pendidikan gratis untuk semua jenjang pendidikan bagi warganya.

Memang di setiap lini kita sedang terpuruk, (mungkin) pembangunan SDM adalah yang paling terburuk di negara kita, jangankan di dalam bidang olahraga dunia, dalam bidang pendidikan saja masyarakat kita yang buta huruf berjumlah 18,5 juta, jumlah ini sama dengan jumlah seluruh penduduk Australia, anak putus sekolah berjumlah 6 juta, jumlah ini sama dengan setengah jumlah penduduk Singapura, belum lagi dari segi kecerdasan akademik dengan mengacu kepada NEM tahun 1989-1997 untuk tingkat SLTP nilai rata-rata secara umum berkisar pada angka 3,85-4.95.

Dari segi prasarana fisik pendidikan, puluhan atau mungkin ratusan bangunan gedung sekolah rusak berat, jika diperbaiki semuanya akan menelan biaya 13 trilyun, jumlah itu sama dengan besarnya anggaran pendidikan nasional tahun 2002 yang sampai sekarang hanya berkisar 4.4 persen dari APBN. Pembangunan SDM kita lemah karena di sini segala sesuatunya sudah dikomersilkan. Komersialisme adalah ciri praktek kapitalisme.

Yang mem-booming di negara kita apa lagi kalau bukan industri yang bisa mendatangkan keuntungan yang besar, tidak peduli apakah industri itu merusak tatanan masyarakat dan lingkungan di masa depan. Industri hiburan dan pertambangan adalah salah satu contoh praktek kapitalisme sejati di negara kita.

Banyak remaja yang ingin meraup rejeki dengan menjadi entertainer sejati bak meteor, maka dibuatlah acara-acara untuk mengorbitkan mereka di industri ini. Acara ini sekarang bagaikan jamur di musim hujan karena apresiasi dan animo masyarakat tinggi sekali, lihat saja pada grand final AFI II panitia menyediakan 3000 tiket yang berharga 200.000 per tiket terjual habis 4 hari sebelum acara digelar. Kita memang memerlukan para penghibur tapi negara ini sangat memerlukan banyak orang pintar untuk mengangkat keterpurukan kita di segala bidang. Tapi ternyata yang merasa negara kita sedang terpuruk hanyalah orang-orang marginal, yang hanya bisa menjadi penonton segala parade pamer kekayaan yang digelar hampir di setiap stasiun TV kita.

Di bidang industri pertambangan pun kita menjadi kapitalis sejati. Demi kepentingan ekonomi ekonomi jangka pendek, kita korbankan hutan lindung penyerap CO2 untuk bisa ditambang. Juga pemberian izin membuang limbah logam berat ke laut kepada pengusaha pertambangan telah berdampak buruk bagi masyarakat sekitar.

Seharusnya kita berkaca pada tragedi yang menimpa Republik Nauru, negara di sebelah timur pulau Papua, pada tahun 2000 mengalami kebangkrutan akibat kerakusan perusahaan pertambangan fosfat. Keuntungan memang pernah dinikmati negara berpenduduk 12 ribu jiwa itu dengan pendapatan perkapita mencapai 17 ribu dolar pada tahun 1981 dan tercatat sebagai salah satu negara terkaya di dunia, tapi setelah itu mereka harus membayar mahal ulah sendiri, yaitu kerusakan lingkungan. Mereka harus mengimpor air, makanan dan juga berhutang. Praktek kapitalisme sejatinya itulah yang mengantarkan Nauru pada kebangkrutan.

Seperti yang dikemukakan tokoh pelaku sejarah di awal tulisan ini, selain bergantung pada aspek sistem juga bergantung pada manusia sebagai pelaku, tapi justru aspek manusia menjadi faktor yang menentukan. The man behind something ternyata lebih penting.

Pemerintah kita masih jauh panggang dari api untuk menjalankan amanat UUD 45. Pasal 33 ayat 2 dan 3 juga pasal-pasal lainnya telah dilaksanakan tapi hanya rakyat dari pihak swasta dan birokrat yang menikmatinya. Jadi suka tidak suka, walaupun kita gembar gembor bahwa kita menganut sistem ekonomi kerakyatan tapi dalam prakteknya kita harus mengakui bahwa kita adalah kapitalis sejati, negara kapitalis yang berpraktek brutal melebihi negara-negara yang memang sudah aslinya kapitalis.

Iswanti
onetea03@yahoo.com

guru SD dan pemerhati masalah sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s