Kawin Siri

MENIKAH itu gampang. Kedua mempelai cukup dikawinkan oleh wali dari pihak perempuan, dengan dua saksi dan mas kawin. Secara agama, mereka sudah sah sebagai suami-istri. Tak perlu dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA), karena itu cuma urusan administrasi negara. Nikah di bawah tangan atau kawin sirri, begitu istilah populernya, sudah lama dipraktekkan oleh sebagian masyarakat muslim Indonesia.

Motivasinya beragam. Ada pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara –kebanyakan mahasiswa belum mapan– memilih nikah sirri ketimbang berzina. Ada pula para pendatang musiman yang sudah berkeluarga, karena jauh dari pasangannya, menikahi gadis atau janda setempat untuk jangka waktu tertentu.

Tapi urusan sirri ternyata tak sesederhana seperti akad nikahnya. Misalnya soal status anak yang tak jelas, istri dicampakkan suami, hingga persoalan pembagian waris.

Itulah yang saat ini jadi perhatian serius Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Lewat Pusat Studi Gender IAIN Sunan Ampel, Surabaya, persoalan ini dibedah dalam sebuah penelitian tentang dampak perkawinan di bawah tangan bagi kesejahteraan istri dan anak di daerah “Tapal Kuda”, Jawa Timur. Kawasan yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, dan Situbondo ini dikenal paling subur untuk kawin sirri.

Sayangnya, hasil penelitian yang dipresentasikan di Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Senin dua pekan lalu, itu sepertinya belum siap dipublikasikan. Malah, berdasar penelusuran GATRA, sebagian data hasil penelitian tersebut, seperti di Probolinggo, tak cocok dengan temuan di lapangan.

Misalnya, tak ada yang bernama Siti Alfiah, Ketua Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Paiton, yang dilansir sebagai pemberi informasi awal penelitian. Begitu pula pengakuan Mochammad Kasim, yang disebut-sebut sering menikahkan sirri. Padahal, tokoh yang lebih dikenal di daerah tersebut adalah H. Syaifullah. Selain itu, sumber penting lainnya, yaitu Lurah Desa Bhinor bernama Sulkan, ternyata sejak 1999 dijabat oleh Pajari. Sebelumnya dipegang M.A. Jamhuri.

Namun apa pun ceritanya, di kawasan itu praktek kawin sirri tak asing lagi. Banyak buktinya. Ribuan anak –buah perkawinan itu– tak punya jejak tentang ayahnya. Ini yang menimpa Simon Mochi Suki. Bocah berusia tujuh tahun itu, setiap kali ditanyai tentang ayahnya, selalu menjawab enteng, “Sudah mati.”

Sejak ditinggalkan Mochi Suki asal Jepang pada 1996, Simon dibesarkan oleh kakek-neneknya di Desa Bhinor, Paiton, Probolinggo. Sedangkan ibunya, Sukartina, 25 tahun, kini bekerja sebagai juru masak di sebuah rumah makan di Bali.

Semula, Ana –begitu Sukartina biasa dipanggil– bekerja di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton sebagai juru masak. Ia bekerja pada 1994, ketika proyek pembangunan PLTU Paiton Unit 7 dan 8 dimulai. Di proyek pembangunan instalasi PLTU itu, Ana yang cuma jeboban sekolah dasar ini berkenalan dengan Mochi Suki yang berkebangsaan Jepang. Si Jepang yang usianya enam tahun lebih tua dari Ana bekerja sebagai teknisi di Toyo Engineering, salah satu vendor yang memegang kontrak pembangunan instalasi. Saat itu, Mochi tinggal di mes Toyo Engineering, di Paiton.

Setelah dua bulan berkenalan, keduanya sepakat menikah sirri. “Kelihatannya dia suka saya,” kata Ana. Tak ada protes dari kedua orangtuanya yang cuma petani kecil. Malah mereka berharap, kehidupannya bisa terangkat dari kemiskinan. Soal agama pun tak jadi kendala. “Mochi seorang muslim, ia pintar salat,” kata Arnati, 55 tahun, ibu Ana.

Perhelatan dilaksanakan secara sederhana di mes tempat tinggal Moch, 2 Maret 1994. Cuma dihadiri ayah Ana, Sukardi, dan beberapa saksi. Kiai Mohammad Basyir dari Desa Pondok Kelor, Paiton, bertugas menikahkan kedua mempelai. Tak ada penghulu yang mencatat perkawinan itu. Foto dokumentasi pun tak ada.

Setelah menikah, keduanya tinggal di rumah kontrakan di Jalan Kampung Baru, Paiton. Saat itu, secara materi, keluarga Ana tercukupi. Bahkan dibelikan tanah seluas 20 x 25 meter, yang kemudian dijadikan tempat untuk membangun rumah. Sebelumnya, keluarga Ana menumpang di rumah saudaranya. “Ini satu-satunya harta kenang-kenangan dari dia,” kata Ana.

Ternyata, perkawinan itu tak seindah mimpinya. Menginjak tahun kedua, hubungan mereka goyah. “Dia sering marah-marah,” kata Ana. Ia tak habis pikir, suaminya yang fasih berbahasa Indonesia itu uring-uringan tanpa sebab. Bahtera rumah tangga Ana-Mochi akhirnya kandas. Pada 1996, Mochi pergi meninggalkan Ana, seiring dengan selesainya proyek di Paiton.

Seingat Ana, saat itu Mochi cuma berpamitan kepada kedua orangtuanya. “Mengapa kamu meninggalkan anak saya?” tanya Arnati. “Saya tidak tahu,” jawab Mochi, enteng. Itulah perceraian mereka. Sesederhana perkawinannya dulu.

Setelah itu, Ana tak lagi pernah berhubungan dengan Mochi. Tapi suatu saat, Ana mengontak dia yang saat itu masih berada di Jakarta. Yang menerima telepon seorang perempuan. “Tidak usah kamu menelepon ke sini lagi,” katanya dengan suara ketus. Kabarnya, wanita itu pun istri simpanan Mochi, yang asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Ketika suaminya pergi, anak Ana masih bayi, berusia dua bulan. Mochi memang meninggalkan sedikit uang, tapi tak lama kemudian habis untuk perawatan bayi dan diri Ana sendiri.

Perjuangan hidup yang berat akhirnya mewarnai hari-hari Ana. Ketika si kecil sudah bisa bermain sendiri, Ana mengadu nasib ke Bali. Di Pulau Dewata ini, ia bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran. Dengan uang hasil kerjanya sebagai juru masak itulah Ana membesarkan Simon. Ia menyempatkan diri pulang sebulan sekali.

Di sekitar lokasi PLTU Paiton, kawin sirri adalah hal lumrah. Korbannya juga tak sedikit. “Biasanya perkawinan itu digunakan sebagai legitimasi perselingkuhan,” kata Ketua Fatayat NU Anak Cabang Paiton, Probolinggo, Hj. Chotimatul Chusna.

Pengasuh Pesantren Mambaul Ulum, Paiton, itu memperkirakan jumlahnya ratusan. Fatayat NU pernah melakukan pendataan. Caranya, dengan menghimpun informasi dari ranting-ranting sekecamatan Paiton. “Ada 70 perempuan yang kami data dikawin sirri,” katanya. Tentu, ini belum bisa mewakili jumlah sesungguhnya.

Namun tak semua pernikahan sirri berakhir buruk. “Masih ada sekitar 30% yang keluarganya baik-baik sampai sekarang,” kata Chotimatul. Ia melihat, adanya proyek PLTU Paiton berefek samping buruk merusak masa depan perempuan setempat.

Proyek pembangunan PLTU yang dimulai 1988 sampai 1996 itu meninggalkan banyak janda. Terutama di desa-desa di Kecamatan Paiton, Probolinggo, dan Kecamatan Banyuglugur, Situbondo. Proyek PLTU berada tepat di perbatasan kedua kabupaten tersebut.

Berdasar data KUA Situbondo, diperkirakan ada 3.000 kasus kawin sirri di daerahnya. Di Jawa Timur lebih dari 30.000 kasus. Kasus serupa merebak pula di sentra industri seperti Cikrang, Bekasi, Jawa Barat. Jumlahnya sulit dilacak. Namanya juga kawin sirri. (GTR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s