Islam Dan Barat

Saat ini dunia kita telah berubah menjadi ”Kampung Besar” di mana kemajemukan bangsa dan agama tidak terelakan. Pertemuan Agama-agama adalah salah satu fenomena global yang terjadi dengan dahsyat. Dunia Barat telah menjadi tempat subur Dakwah Islam, kaum Muslimin dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia telah menjadi imigran legal dan illegal di masyarakat Barat untuk mencari hidup dan mengubah kehidupan politik, ekonomi, dan pendidikan anak cucunya.

Kaum Muslimin tidak lagi dalam lingkungan tradisionalnya sebagai tempat kelahiran Islam, yaitu Timur Tengah atau negeri-negeri Arab. Konflik internasional dan eksternal negeri-negeri Arab menyebabkan imigran terbesar di Barat adalah umat Muslimin di (Eropa dan Amerika).

Saat ini, di Amerika kita dapatkan sejumlah imigran-imigran Afrika Timur Tengah dan Asia, sementara sebagian kecil adalah pengikut-pengikut Islam yang baru saja mendapat hidayah. Dalam tentara yang tergabung dalam NATO misalnya, kini didapati para imam untuk pembinaan tentara yang beragama Islam. Lahan subur dakwah Islam di Barat menyebabkan Islam menjadi agama yang tercepat menyebar di Barat, khususnya di tengah kaum intelektual dan mahasiswa.

Sayangnya setelah 11 September 2001 kaum Muslimin menjadi orang-orang yang dicurigai di tengah-tengah warga Negara Eropa, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Walaupun dakwah Islam tidak berhenti, karena ”keingin tahuan” masyarakat baik di Amerika maupun di Eropa. Ulama dan intelektual Muslim makin laris diundang untuk berceramah tentang Islam. Masyarakat Barat yang krisis tidak bisa diyakinkan oleh media Barat, bahwa Islam identik dengan terror, kekerasan, dan radikal. Malahan baru saja Amerika Serikat meluluskan ”Undang-undang” agar masyarakat Muslim tidak dijadikan terdakwa akibat perbuatan radikal orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kampus-kampus adalah wilayah kritis terhadap penguasa Barat yang getol menghidupkan lagi konservatisme.

Saat ini dunia Islam, masih tertinggal dari umat lain dalam pendidikan dan ekonomi. Kedua faktor utama ini menyebabkan kaum muslimin merasa Barat khususnya penguasanya, tidak adil dalam politik terhadap umat Islam, apalagi kalau terfokus pada masalah konflik Palestina dan Israel. Masalah konflik berlarut-larut Palestina dan Israel inilah asal mulanya lahir radikalisme masa kini.

Keadaan sosial-politik dan ekonomi orang-orang Paletina adalah lahan subur timbulnya ”Dendam-dendam politik” yang lebih luas yaitu: Arab dengan Israel. Konflik Arab dengan Israel ini meluas menjadi konflik Islam dengan Yahudi. Memang Islam dengan Arab tidak bisa dipisahkan dalam sejarah dunia Islam, tetapi dapat secara cermat dan jernih dipisahkan. Untuk kepentingan analisa strategis.

Kultur Arab tentunya tidak identik dengan kultur Islam, walaupun semua mengetahui benar bahwa dalam hadis Nabi Muhammad SAW tidak ada kelebihan Arab atas non Arab, kecuali dengan taqwa. Dalam dunia Islam yang masih tertinggal dalam ekonomi dan pendidikan, khususnya Timur Tengah (negara-negara Arab) tenggelam dalam konflik yang berkepanjangan, maka yang menonjol adalah ”Keberagaman Arab” yang emosional.

Kultur emosional dalam pertemuan ilmiah dan dakwah, kurang kita dapati di regional Asia Tenggara, regional Asia yang penuh kemajemukan dan toleransi dapat memainkan peran ummatun wasato (peran umat yang moderat) saat-saat transisi dunia Islam ini. Islam yang telah menjadi mengglobal setelah tak pantas lagi menjadi ”emosional” dalam era demokrasi dan kontribusi sesudah tiba saatnya dalam era globalisasi ini, kaum Muslim memberi kontribusi kemanusiaan dan kesalehan hidup dalam menuntun jalannya “nilai-nilai” hidup manusia modern.

Bahkan nilai-nilai Barat telah memperlihatkan tanda-tanda kehancuran. Dari sebuah buku, The Desst Of The West (Habisnya Dunia Barat) yang ditulis oleh seorang pendeta Petric B. Jenert (guru George W. Bush) menyatakan, Dunia Barat sedang menuju kehancuran. Hal ini dibuktikan dengan tanda-tanda: pertama, orang Barat tidak senang lagi punya anak. Kedua, orang Barat tidak senang lagi punya cucu.

Mutual respek kultur dalam era globalisasi, makin penting untuk kita kembangkan sebagai kaum Muslimin dari kampung kecil yang negatif, sudah seharusnya ditinggalkan dalam pergaulan dunia yang mengglobal. Kurangnya pendidikan seperti tidak bisa berbahasa setempat adalah ciri negatif utama imigran Muslim di Barat. Tindak kriminal di Barat makin membaur antara ”mafia” dari Italia dengan ”mafia” dari wilayah Muslim tidak terkecuali obat terlarang. Image Islam di Barat, kadang-kadang timbul dan muncul dari ulah kriminal minoritas imigran Muslim.

Lahirnya Radikalisme
Tidak ada agama dan umatnya terbebas dari gerakan radikal dalam sejarah dunia dan sejarah kemanusiaan. Agama dan umatnya tidak bisa terlepas dari lingkungan. Munculnya gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena penting yang turut mewarnai citra Islam kontemporer. Masyarakat dunia belum bisa melupakan peristiwa revolusi Iran pada 1979 yang berhasil menampilkan kalangan mullah ke atas paggung kekuasaan. Dampak dari peristiwa itu sangat mendalam, karena kebanyakan pengamat tidak pernah meramalkan sebelumnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dunia, khusunya Barat, dibuat bingung karena rezim mullah begitu bersemangat untuk melawan dan menyingkirkan mereka.

Hegemoni politik dan kultural Barat yang sebelumnya kuat mengakar dalam kehidupan sehari-hari ikut pula diganti dengan tatanan baru yang tidak didahului preseden historis. Proses pembaikan itu begitu radikal, sehingga simbol yang terkait dengan budaya Barat tidak diberi ruang. Penguasa juga tidak segan-segan menjatuhkan hukuman terhadap mereka yang dicurigai sebagai agen dan kaki tangan Barat. Akibatnya jutaan rakyat harus keluar dari negeri tersebut, dan sebagian mereka juga terpaksa meringkuk di penjara.

Keberhasilan Revolusi Islam Iran semakin memperkuat gerakan di negara-negara Iran dalam mengekspor revolusi, banyak peneliti menyatkan tidak terlalu sulit menemukan bukti keterlibatan negara ini sebelumnya dalam aksi-aksi radikal di negara-negara lain. Secara diam-diam negara ini turut mensponsori gerakan keagamaan di Libanon dan Palestina. Mereka juga tidak sungkan-sungkan mendukung gerakan serupa di Eropa, dengan misalnya, menjatuhkan hukuman mati kepada Salman Rusdi walaupun ia bukan warga negara Iran. Sikap mereka yang agresif ini kemudian memunculkan banyak kekhawatiran dan curiga dari negara-negara lain, termasuk negara yang mayoritasnya Muslim. Di Indonesia sendiri citra Iran lebih banyak dikaitkan dengan radikalisme agama sehingga Shi’ahisme belum bisa diterima secara terbuka.

Iran hanyalah satu kasus dari gerakan radikalisme keagamaan yang dalam Islam. Di belahan dunia lain, Aljazair, juga menyuguhkan peristiwa yang tidak kalah memprihatinkan. Selama beberapa tahun terakhir, negara ini selalu dirundung kekacauan politik yang banyak memakan korban jiwa. Situasi ini bermula dari pemilu demokrasi pertama yang diseleggarakan negeri itu pada 1986, dimana kemenangan partai Islam (FIS- Front Pembela Islam) dianulir oleh kelompok nasionalis yang ditakut-takuti dan didukung Barat. Secara apriori, pihak nasionalis dan Barat melihat kemenangan tersebut sebagai ancaman terhadap demokrasi dan pluralisme, sedang FIS merasa bahwa tindakan sepihak kalangan nasionalis jelas-jelas merugikan mereka. Oleh karena tidak tercapai kompromi, keduanya tidak dapat menghindarkan penggunaan kekerasan hingga saat ini.

Gerakan keagamaan yang menyertai kekerasan itu hanya dilakukan oleh organisasi besar dan mapan. Kejadian-kejadian sporadis yang berupa pemboman pesawat sipil, barak tentara atau pasar, juga penculikan, kelompok-kelompok yang biasa disebut Barat sebagai ”teroris”. Menurut data masyarakat Barat, sebagian mereka didukung oleh Libia dan Iran, dan sebagian lagi didukung oleh organisasi kecil yang militan. Di antara yang mendapat liputan luas adalah gerakan Hammas dan Jihad. Keduanya secara terang-terangan menyatakan dirinya bertanggung jawab atas beberapa kejadian berdarah, termasuk pembunuhan terhadap presiden Mesir, Anwar Sadat.

Maraknya gerakan radikalisme dalam masyarakat Muslim secara langsung memperteguh citra lama tentang Islam bahwa pada dasarnya agama ini bersifat radikal dan intoleran. Kesan ini sulit dibantah, karena gelombang radikalisme Islam telah menjadi bagian penting dari rentetan kekisruhan politik sejak pertengahan abad ini. Bahkan pada abad-abad sebelumnya patro-radikalisme Islam telah muncul sebagaimana yang ditunjukkan oleh gerakan politik-keagamaan.

Yang dipimpin oleh Usman dan Fodio Afrika, Wahhabiyah di Semenanjung Arab, dan jauh sebelumnya oleh kaum Khawarij. Meskipun demikian, sulit pula membenarkan pandangan yang umumnya tersebar dalam media massa Barat bahwa radikalisme adalah ciri inheren Islam. Gerakan radikalisme keagamaan yang menyebar di hampir seluruh negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tidak selalu memiliki kaitan antara satu dan lainnya. Perlawanan bersenjata yang dilancarkan oleh kaum separatis Mindanao, misalnya, tidak memiliki hubungan dengan FIS. Begitu pula gerakan radikal yang diprakarsai oleh duet Hasan Turabi-Jenderal Umar Hasan al ‘Bashir di Sudan juga tidak ada hubungannya dengan Revolusi Iran atau Mujahidin Afghanistan. Masing-masing gerakan memiliki agenda dan konteks tuntutan sendiri.

Berdasarkan uraian dari tulian pertama kemarin, tampak bahwa radikal dalam sejarah Islam memiliki agenda yang berbeda-beda. Secara ideal mereka memang berusaha untuk menerapkan ajaran-ajaran agama secara menyeluruh, tetapi metode dan pemahaman atas teks suci serta imperatif-imperatif yang dikandungnya saling berbeda. Memasuki fase abad ke-19, suasana dunia berubah dan menurut suatu respons yang lebih luas. Pada masa ini Barat telah muncul sebagai kekuatan dunia yang telah mendominasikan keberadaan Muslim. Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani dan Rasyid Ridha adalah manifestasi dan realitas Muslim yang merasa supremasi tersebut. Agenda pembaharuan Islam pun berkembang dari persoalan internal menuju eksternal. Di satu sisi, para tokoh reformis tersebut masih sibuk dengan yang dihadapi kalangan revivalis lain. Di sisi lain mereka juga harus menghadapi tantangan revivalis, serta mereka harus pula menghadapi tantangan dari luar, yaitu modernisme.

Kenyataan historis menunjukkan bahwa pada periode sesudahnya, Islam tidak saja kalah, tetapi juga kehilangan posisinya di tengah masyarakat. Pada saat yang sama dominasi politik, ekonomi dan kultural Barat melaju tidak terbendung dan meminggirkan posisi Islam. Dalam konteks inilah gerakan kebangkitan Islam yang tadinya mengambil jalur kultural dan teologis berubah menjadi gerakan politik dan ideologis. Meskipun sama-sama menghendaki kebangkitan Islam, kalangan radikalis cenderung bersikap reaksioner dan idealistik.

Peneguhan Islam dilakukan melalui penolakan terhadap non-Islam (Barat), dan realitas historis kejayaan Islam dipakai sebagai ideologi alternatif bagi masyarakat. Kasus-kasus negara berpenduduk mayoritas Muslim menunjukkan bahwa idiom-idiom agama sering dipakai sebagai alat untuk mengekspresikan ketidakpuasan sosial, ekonomi dan politik. Hal ini wajar, karena Islam telah menyediakan simbol-simbol tersebut masih terasa efektif sampai masa modern kini. Dengan demikian, raison d’etre untuk menegakkan Islam tampaknya tidak hanya dimotivasi oleh imperatif teologis, tetapi juga didorong oleh perjuangan mendapatkan kembali identitas kultural serta historis. Mungkin karena sebab ini, masyarakat Muslim yang tidak menjadi bagian dari kejayaan Islam, seperti Indonesia, tidak begitu terobsesi untuk meraih kembali masa keemasan Islam tersebut, dan lebih bersikap terbuka bagi akomodasi kultural dengan masyarakat dunia lain, termasuk Barat.

Hampir semua kasus radikalisme keagamaan menunjukkan bahwa kemunculan mereka senantiasa berhadapan dengan Barat. Eksperimen bermacam-macam, mulai dari oposisi terhadap rezim yang dianggap sekuler, kapitalisme yang dipandang eksploitatif sampai kebebasan hubungan lain jenis yang diyakini amoral. Kenyataan ini menunjukkan bahwa peradaban modern yang saat ini diterapkan oleh masyarakat di seluruh dunia belum mampu mengakomodasikan kepentingan radikalisme.

Namun demikian, kalangan radikalis juga tampak kesulitan untuk menerima kecenderungan global yang mengatur hubungan antar bangsa. Bila perbedaan ini tidak dapat dijembatani, kekerasan dan ketidakpuasan akan terus merebak. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa di masa mendatang, pluralisme dan interdependensi antarmanusia merupakan prinsip sosial yang tidak bisa lagi ditolak. Oleh karenanya, dialog dan kesediaan untuk saling berbagi tetap merupakan keharusan bagi lancarnya penerapan prinsip-prinsip kebersamaan tersebut.

Mengerti radikalisme masa depan
Sebenarnya, kata radikal berasal dari kata radix yang berarti akar. Berpikir secara radikal sebenarnya berarti berpikir sampai ke akar-akarnya akan sampai kepada hakikatnya, namun berpikir secara radikal akhirnya berpikir antikemapanan. Apa saja yang berarti kemapanan itu, tentu saja kemapanan pertama dan utama adalah agama. Kebenaran agama mulai diobok-obok sampai kepada dasarnya, yaitu ketuhanan, akidah atau teologi kitab Alquran adalah kitab yang paling siap menantang pikiran-pikiran radikal itu. Kitab suci yang lain mengalami pengobok-obokan pikiran radikal itu tampak kebingungan. Misalnya apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan? Akhirnya Tuhan mereka matikan di Barat, maka kebebasan sudah tidak ada lagi batasnya, semua pagar dan pematang dilewati dan dihancurkan, terbentulah ”masyarakat semau gue” di mana keluarga atau rumah tangga sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman, maka lembaga keluarga atau keluarga dihilangkan sebagai lembaga keagamaan yang suci bagi perjalanan kemanusiaan dalam keturunan.

Lengkaplah pemikiran masyarakat modern meninggalkan agama dan keluarga. Namun umat beragama di seluruh dunia tidak mau ditelan atau dihancurkan modernisasi. Kata intelektual agama, modernisasi bukan westernisasi, gelombang pikiran menentang dampak samping modernisasi sangat kuat untuk survivenya umat beragama. Ternyata era 80-an timbul kebangkitan kembali agama-agama, sebagai yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Modernisasi berhasil memudahkan kehidupan manusia, tapi tidak membawa manusia dan keluarga serta masyarakat kepada kebahagiaan hidup spiritual malahan membawa manusia kepada kekacauan dan kegalauan kehidupan. Radikal berawal dari pemikiran yang tidak mau mengakui kebenaran pemikiran kelompok lain, menurutnya yang benar hanya mereka saja. Kebenaran agama hanya untuk orang-orang kuno dan ketinggalan zaman. Karena itulah, hipotesis yang saya ajukan adalah menuju ummatun Wasatho sebagaimana perintah Allah dalam surat Al Baqarah 143, alatnya pikiran, bukan senjata. Pilihan kaum Muslimin adalah keseimbangan hidup material dan spiritual.

Menyusupi pikiran Islam
Ummat Islam yang hidup dalam kemiskinan dan kebodohan serta ketidakadilan adalah lahan subur untuk berpikir secara radikal. Dalam bahasa mudahnya mengapa perlu berpikir susah seperti para ulama membaca kitab-kitab. Mari kita hitam-putih, teman dan lawan, kita dan mereka.

Mulailah dipelintir kata-kata penting dalam Islam. Misalnya jihad dan syariat serta beragama yang kaffah dari pengertian yang tidak lengkap. Konflik-konflik di Timur Tengah adalah tempat asal penyusupan pikiran radikal bagi umat Islam, karena ulah elite politik di sana yang kurang menunjukkan prilaku yang Islami. Ulah elite politik di sana, ternyata awal kehidupan Muslim di masyarakat Barat juga tidak mudah karena tidak siap berkompetisi. Penderitaan demi penderitaan telah mengentalkan perasaan permusuhan dengan lingkungan. Kebebasan berpikir di Barat telah digunakan secara baik untuk membina berpikir radikal dalam kelompok itu adalah peristiwa 11 september 2001, yang mengagetkan dunia termasuk dunia Islam.

Deretan panjang bom-bom di Maroko, Ryadh, dan Bali menyadarkan umat Islam, khususnya ulama dan intelektualnya bahwa radikalisme pikiran telah berbentuk perbuatan. Pikiran menentang radikalisme mulai disuarakan oleh pimpinan tertinggi Al-Azhar Mesir, Syaikul Akbar Mohamamd Sayid Thanthawy, Raja Fahd, PM Mahathir Muhammad. Kata Syaikul Azhar, radikalisme tidak ada hubungannya dengan agama dan dakwah ini adalah gerakan, politik yang mencoreng dan mencederai Islam.

Asia Tenggara sebagai kawasan ummat Islam yang hidup dengan kemajemukan agama, politik dan ekonomi, dikatakan oleh para ahli Islam kawasan yang less Arabized, telah terpanggil menentang radikalisme. Pertemuan-pertemuan diadakan dari perguruan tinggi sampai kepada tabligh-tabligh akbar untuk menentang diubahnya. Islam sebagai rahmatan lilalamin menjadi laknat lil alamin. Islam sebagai agama yang tercepat tersebar berkembang di seluruh dunia menjadi terdakwa di mana-dimana, khususnya minimal menjadi ”tersangka” di banyak tempat di Barat. Alhamdulillah, kampus dan intelektual Barat yang berpikir secara kemanusiaan dapat membebaskan atau meminimalkan syak-wasangka tersebut. Inilah, saya kira, saat yang baik bagi kita semua untuk sama-sama membangun citra Islam yang baik dan damai. (RioL)

KH Dr Tarmizi Taher
Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Moslem (CMM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s