Seorang Muslimah Francis Membotaki Rambutnya

Seorang Muslimah Perancis, rela mencukur habis rambutnya, alias botak sebagai bentuk aksi protes larangan mengenakan jilbab yang diterapkan pemerintah Perancis bagi siswi-siswi sekolah negeri.

Cennet Doganay, 15 tahun, siswi sekolah menengah Louis Pasteur Lycee di Strasbourgh, sengaja melepas jilbabnya ke sekolah dan memperlihatkan kepalanya yang botak.
Doganay, warga Perancis keturunan Turki ini mengatakan, dia menghormati hukum di Perancis, tapi hukum Perancis tidak menghormati agamanya. Ibu Doganay mengaku sedih melihat kepala anaknya yang botak. Meski demikian ia mendukung keputusan anaknya itu.

Larangan mengenakan jilbab dan simbol-simbol keagamaan di sekolah-sekolah negeri Perancis memicu kontroversi di negeri itu.

Perancis tetap memberlakukan undang-undang larangan itu, meskipun menuai kritik dari dalam dan luar negeri. Organisasi Hak Asasi Manusi yang berbasis di Amerika Serikat, menilai larangan mengenakan jilbab sebagai tindakan yang diskriminatif.

Mantan Menteri Dalam Negeri Perancis dan pejabat menteri keuangan Nicolas Sarkozy adalah salah seorang yang menentang larangan itu. Dia berpendapat, larangan mengenakan jilbab akan menimbulkan reaksi dikalangan Muslim di negeri itu. Muslim, kata Sarkozy akan memandang larangan itu sebagai hukuman dan hal yang memalukan.

Abdullah Milson, anggota Komite Pro Hijab menyatakan, apa yang dilakukan Doganay mencerminkan keputuasaan dan kekecewaan siswi Muslim berjilbab yang ingin menyeimbangkan antara pendidikan dan agamanya. Komite Pro Hijab sudah menindaklanjuti kasus Doganay sealam senulan ini, namun pihak sekolah tetap tidak mengijinkan Doganay meski Cuma mengenakan bandana.

Ketua Liga Wanita Perancis Fatmah Al-Zehawi menyatakan, tindakan esktrim yang dilakukan Doganay, menunjukkan kekecewaan yang mendalam atas kebijakan pemerintah Perancis.

Liga Wanita, yang anggotannya terdiri dari tokoh-tokoh Muslim dan non Muslim serta perwakilan dari organiasasi Islam ini, sudah melakukan bantuan psikologis kepada siswi yang dikeluarkan dari sekolahnya karena tetap ingin mengenakan jilbab.

Sejak undang-undang larangan jilbab berlaku tanggal 2 September kemarin, kantor berita Reuters melaporkan, setidaknya ada 120 siswi sekolah yang tetap bertahan dengan jilbabnya ke sekolah. Diantaranya ada yang dikeluarkan oleh pihak sekolah, seperti yang dialami dua bersaudara siswi sekolah di Henri Wallon Lycee di wilayah Aubervilliers, daerah pinggiran di sebelah utara Paris. Di kota Strasbourg, masih ada 19 siswi Muslimah yang bertahan tetap mengenakan jilbabnya ke sekolah.

Sementara itu, berkaitan dengan penculikan warga Perancis di Iraq dengan tuntutan pencabutan larangan jilbab, menurut anggota Komite Pro Hijab Abdullah Milson, justru makin memperkeruh gerakan Pro Hijab di Perancis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s