Melawan Fitnah itu Wajib

Melawan Fitnah itu Wajib

Sudah jadi watak kaum pezhalim akan menyatu dengan kaum pezhalim lainnya. Kaum pengkhianat amanah akan menyatu dengan pengkhianat amanah lainnya. Jika bisa, yang mereka lakukan adalah merangkul orang-orang bodoh untuk ikut mendukung langkah mereka.

Jika kita tidak sungguh-sungguh melawan koalisi kezhaliman, fitnah besar akan melanda bangsa ini

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi danfitnah yang besar.” (Al-Anfaal: 73)

Menurut asbaabun-nuzulnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abu Syaikh dari Suddi dari Abi Malik, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan suatu peristiwa, di mana salah seorang sahabat mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah tentang harta warisan.

Ia bertanya: “Bagaimanakah kalau kami memberikan harta warisan atau menerimanya dari saudara kami yang musyrik?” Sehubungan dengan pertanyaan itu, maka turunlah ayat di atas, yang intinya memberi penegasan bahwa kaum musyrikin walau bagaimanapun tetap akan bantu-membantu di antara mereka dalam menghancurkan Islam. Demikian pula sebaliknya, kaum Muslimin akan tolong-menolong diantara mereka dalam menegakkan kebenaran. Intinya, kaum Muslimin tidak dibenarkan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala memberikan harta warisan kepada sanak kerabat yang musyrik.

Dalam riwayat yang lain, sebagaimana hadits riwayat Hakim dari Usamah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada suatu waktu menegaskan bahwa orang islam tidak boleh mewarisi harta dari orang kafir, dan orang kafir tidak boleh diberi warisan oleh orang Muslim. Sehubungan dengan hal itu, Allah Swt menurunkan ayat ke 72 dan 73 Al-Anfaal sebagai penegasan bahwa orang Mu’min merupakan kekasih orang Mu’min dan orang kafir adalah kekasih diantara mereka. Tidak dibolehkan saling mengambil pelindung.

Agama merupakan kebenaran ajaran yang diyakini. Orang yang menganut sebuah agama meyakini kebenaran lalu menjalankan keyakinannya, menda’wahkan, dan memperjuangkannya. Untuk itu mereka pasti mencari teman yang mempunyai keyakinan yang sama. Bersama mereka, ia menjalankan agamanya. Bersama mereka, ia menda’wahkan, dan memperjuangkannya.

Oleh sebab itu, para pemeluk setiap agama mempunyai kedekatan, ikatan, persaudaraan, dan hubungan yang bersifat khusus. Hubungan yang dibangun di atas landasan keagamaan itu bahkan sangat kuat, lebih kuat dibandingkan hubungan kekerabatan atau hubungan berdasar nasab (keturunan). Di antara sesamanya mereka memiliki solidaritas, saling melindungi, saling menolong, dan saling membantu. Ba’duhum auliya-uba’din.

Ikatan yang dibangun di atas landasan agama dan keyakinan itu tidak hanya sebatas hubungan antar individu, tapi bisa juga antar kelompok, lintas etnis, dan lintas partai politik. Bisa jadi mereka berbeda etnis, tapi mereka disatukan dalam ikatan agama dan keyakinannya. Bisa jadi seseorang berbeda partai politiknya, tapi diantara mereka dihubungkan dengan ikatan keyakinan dan agamanya.

Atas dasar itu, maka kolaborasi dan koalisi di antara para penganut agama itu sangat mungkin terjadi. Apalagi jika tujuan dan kepentingannya sama, juga yang dihadapi adalah musuh bersama.

Koalisi yang dibangun semata-mata karena kepentingan politik biasanya bersifat sementara, tidak permanen. Akan tetapi koalisi yang dibangun di atas landasan agama dan keyakinan biasanya bersifat permanen, dan itulah koalisi yang sebenarnya. Dalam menghadapi isu-isu politik tertentu koalisi ini bisa berbeda bahkan terpecah, tapi hubungan antar individu dan secara kelembagaan mereka tetap sama, solid, dan saling men-support.

Atas dasar premis ini kita dapat menjelaskan, mengapa perang agama masih terus terjadi hingga saat ini? Di Serbia, di India, Di Afghanistan, di Palestina, dan terakhir di Iraq, selain faktor-faktor ekonomi, di dalamnya ada motivasi yang lebih kuat, yaitu motivasi agama. Bisa saja para pakar dan orang-orang sekuler menutup-nutupi motif tersebut, tapi kenyataan di lapangan membuktikan yang jauh berbeda. Untuk membuktikan hal tersebut sungguh sangat mudah. Lihatlah siapa dan dari mana tentara koalisi atau sekutu Amerika yang menganeksasi Irak saat ini? Di gelanggang politik tak jauh berbeda, bahkan lebih kentara lagi.

Kelompok sekuler yang ingin menjauhkan agama dari urusan dunia dan negara akan berkoalisi diantara mereka untuk mengganjal setiap langkah kemenangan yang diraih kelompok Islam, misalnya. Bahkan untuk membungkam kekuatan Islam itu mereka tak segan-segan melakukannya dengan segala cara.

Untuk memperluas jaringan dan memperbesar kekuatan, kelompok ini tak segan-segan menggandeng (berkoalisi dengan) kelompok lain, meskipun aliran politik dan ideologinya berbeda. Akhirnya mereka bersatu untuk menghadapi Islam. Keadaan gawat seperti inilah yang paling sering di hadapi ummat Islam dalam panggung sejarah, sejak dulu hingga sekarang.

Untuk itu, mewaspadai koalisi jahat seperti ini menjadi sebuah keharusan. Kita masih ingat benar pengkhianatan yang dilakukan oleh sekelompok orangYahudi Madina yang telah berkoalisi dengan tentara musyrik Quraisy menghadapi kaum Muslimin. Koalisi seperti ini sangat strategis, sebab dengan koalisi itu ummat Islam bisa diserang dari luar dan dari dalam, sekaligus. Dengan kewaspadaan tentara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw, koalisi itu bisa dikalahkan. Yahudi Madinah yang telah berkhianat akhirnya diusir bersama keluarganya.

Bagaimana dengan kita sekarang? Koalisi zhalim itu kemungkinan besar terbentuk, bahkan bisa jadi akan mendapat dukungan moral dan aliran uang yang tidak sedikit dari luar negeri. Ini sangat dimungkinkan, mengingat koalisi ini bersifat lintas partai politik, lintas etnis, dan lintas negara. Luar biasa!

Untuk menandingi koalisi busuk seperti ini tidak ada jalan lain kecuali ummat Islam melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. In lam takun taf’aluuhu, jika kalian tidak melakukan seperti yang mereka kerjakan, takun fitnatun fil ardh wa fasaadun kabiir, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan dan dahsyat.

Fitnah dan kerusakan itu pertama kali akan menimpa kaum Muslimin, kemudian pada gilirannya akan mengenai keseluruhan manusia. Kekalahan Islam bukan saja kekalahan yang akibatnya hanya diderita kaum Muslimin, tapi kekalahan Islam adalah kekalahan kemanusiaan, yang akibatnya akan ditanggung oleh ummat manusia se dunia. Itulah sebabnya, kenapa islam harus menang. Di balik misi pemenangan itu sesungguhnya terbawa juga misi rahmatan lil ‘alamin dan kaffatan lin-naas.

Dalam ber-siyasah Islam, tidak dikenal membunuh musuh atau mengalahkan lawan. Yang ada adalah usaha untuk mencerahkan. Itulah kemenangan yang sebenarnya, dan itulah tujuan akhir dari da’wah dan jihad dalam Islam.*

oleh Hamim Thohari, redaktur senior Majalah Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s