Moammar Khaddafi, Barat dan Islam

Moammar Khaddafi, Barat dan Islam

Tabrani Syabirin, MA Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia; Alumni Universitas Al Azhar, Mesir
Ajal mantan orang kuat Libya Moammar Khaddafi berakhir secara tragis. Setelah gelombang revolusi menghantam kekuasaannya sejak Februari 2011, Khaddafy dan regime-nya berusaha bertahan, tapi sia-sia.Pertahanan terakhir adalah di kota kelahirannya, Sirte. Ternyata warga kota Sirte juga tidak sanggup melindungi Kaddafy. Dengan sisa-sisa pendukungnya, Khaddafy mencoba mencari tempat berlindung dengan meninggalkan Sirte, Kamis pagi (20/10/20011).

Ternyata itulah hari terakhir sang diktator, iring-iringan kendaraannya meninggalkan Sirte, di bom pasukan NATO. Lalu, dalam keadaan terluka, Sang Kolonel ditangkap, lantas disiksa, ditembak sampai menemui ajal di tangan pasukan revolusioner Libya. Mayatnya dipertontonkan di pasar sayuran, Misrata, seperti binatang. Kekuasaan Khadafy selama 42 tahun berakhir sudah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Segala
atribut yang melekat pada diri pemimpin Libya itu terlepas.
Kekuasaan, kehormatan melayang meninggalkannya seperti debu ditiup angin. Adapun harta yang dikumpulkan selama puluhan tahun menjadi incaran negara Barat dan regim penggantinya. Menurut perkiraan banyak pengamat, sejak tahun 2001- 2010 (harta Libya yang dikangkangi Khadafi lebih dari 32 Milyar USD). Sementara anak-anaknya akan dimintai pertanggungjawaban karena bersentuhan secara langsung dengan kekuasaan ayah mereka.

Anak laki-laki Khaddafy, ada beberapa yang sudah ditangkap lalu dibunuh, agar tidak ada lagi keturunan Khaddafy yang akan menuntut balas di kemudian hari. Adapun anak perempuan satu-satunya mungkin akan dibiarkan hidup sebagaimana perlakuan yang sama terhadap Saddam Hussein dan keluarganya. Dua anak laki-laki Saddam: Uday dan Qusay juga dibunuh. Sadis memang. Meskipun Khaddafy sudah meninggal pembicaraan tentang Khaddafy tidak akan habis dibahas, diantaranya adalah kenapa Khadafi harus dihancurkan? Apa kesalahannya? Apa yang sedang terjadi pada masyarakat Libya dan dunia Islam dewasa ini? Banyak tuduhan yang dikemukakan.

Ada kesalahan primer dan sekunder. Tuduhan yang mengemuka adalah, dia anti demokrasi dan melanggar HAM. Tuduhan ini bertiup seiring dengan maraknya gelombang revolusi yang menumbangkan regim despotik Arab. Dimulai dari Tunisia, Mesir, sekarang gelombang revolusi juga akan menumbangkan penguasa Yaman dan Syiria. Serangan NATO Biadab Ada kesepakatan di antara negara imperialis. Perang Irak dan Afganistan adalah perang AS.

Karenanya Washington mengambil tanggung jawab paling besar. Perang Libya adalah jatah Perancis dan Inggeris. Maka kedua negara ini mengambil saham paling banyak. Dengan payung hukum resolusi DK-PBB, Perancis berada pada garis depan menyerang Libya. Tuduhan diktator, anti HAM hanyalah alasan untuk pembenaran. Karena banyak penguasa di dunia ini yang anti demokrasi dan HAM tapi tidak diserang.

Sebenarnya ada alasan prinsipil bagi negara Barat untuk mengganti regim Khaddafi. Khaddafy tidak mau diatur Barat. Sejarah regime Khaddafy merupakan rentetan panjang perlawanan terhadap imperialisme. Ketika negara Perancis (2010) mengalami krisis keuangan, dimana untuk membayar uang pensiun pegawainya sudah tidak mampu. Harapan pemerintah Perancis adalah mendapat jatah minyak dan menjual senjata dan teknologi listrik bertenaga nuklir kepada Libya. Kontrak senilai 200 Milyar Euro sudah di tangan Presiden Perancis, Sarkozy. Tapi dengan entengnya Khaddafy membatalkannya, lalu melirik Cina, karena lebih murah dan canggih dan tentu menguntungkan Libya.

Pembatalan ini membuat Perancis meradang dan kalap. Selain itu tingkah politik Khaddafi terus- menerus mengancam kelangsungan kapitalisme dengan membangun kemandirian ekonomi Afrika dan secara tegas membebaskannya dari jeratan hutang kepada IMF. Kalau ekonomi Afrika bangkit dan mandiri maka kedigdayaan Barat hanyalah menghitung waktu. Negara-negara Barat yang saat ini sedang didera krisis ekonomi hanyalah tinggal menunggu lonceng kematian. Sebelum terjadi Khaddafy harus dihentikan, lalu disusunlah skenario untuk menggulingkan Kolonel Khaddafi.

Perlu diketahui, Libya adalah negara kaya minyak nomor 12 di dunia dengan produksi minyak mentahnya 1,6 juta barel perhari. Adapun jumlah penduduknya hanya sekitar 6 juta jiwa. Uang pribadi Khadafi sendiri lebih dari 32 Milyar Dollar. Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 230 juta jiwa, produksi minyak hanya sekitar 700 ribu barel per hari. Itulah alasan utama kenapa Khaddafi harus dihancurkan secara biadab dan tidak berperikemanusiaan. Adapun alasan demokrasi, HAM hanyalah alasan klise untuk membenarkan serangan militer.

Betapa banyak
negara yang tidak demokrasi di dunia, tapi tidak diapa-apakan. Jika dibandingkan kejahatan Khaddafi dengan Hitler dan partai Nazi tentu tidak sebanding. Hitler membunuh 6 juta Yahudi, dan penjahat perang. Tapi coba lihat bagaimana perlakuan terhadap penjahat perang Nazi dalam Perang Dunia II. Tetap ada pengadilan terhadap penjahat perang yang dikenal dengan Pengadilan Nuremberg. Bagi Khaddafi tidak ada perlakuan yang manusiawi, setelah dia terluka, dan ditangkap, lalu dibunuh secara sadis, kemudia mayatnya diperlakukan seperti binatang.

Dimana kemanusiaan negara imperialis yang tiap menit berteriak penegakkan demokrasi dan HAM itu? Masa Depan Libya Rakyat Libya sebagai mana rakyat di negara Arab lainnya saat ini mendambakan demokrasi, kebebasan berpendapat dan Islam. Ketiga harapan ini jelas bertentangan dengan sistem politik yang dipertahankan Khaddafi. Khaddafi menawarkan Sosialisme Arab, persatuan dan membungkam demokrasi dan Islam.

Aktifis demokrasi dan aktifis Islam akan menemukan nasib tragis dengan dibunuh dan digantung. Selama berkuasa sejak tahun 1969, tangan Khaddafi berlumuran darah, berpolitik dilarang. tahun 1996 di penjara Abu Salim, Khaddafi mengeksekusi tidak kurang 1.200 tahanan politik. Mereka yang selamat harus meninggalkan Libya. Sebagian hidup di negara Barat dan sebagian besar lari menyelamatkan diri ke Afghanistan, bergabung dengan mujahidin. Kelompok mujahidn inilah yang menjadi tentara inti kelompok revolusioner, yang dituduh Khaddafi sebagai jaringan teroris, AlQaedah.

Desakkan dalam negeri Libya yang menginginkan demokrasi dan Islam sudah menginginkan pergantian regim. Kepentingan rakyat ini bertemu dengan kepentingan Perancis dan Inggeris yang menginginkan eksploitasi minyak Libya. Hal ini dapat diikuti dengan jelas kenapa mereka menyambut perubahan regime yang ditawarkan Perancis. Perkembangan dunia teknologi komunikasi dan informasi telah menggoreng situasi sehingga cepat matang. Rakyat yang sudah melek informasi tentu tidak dapat membiarkan Khaddafi dan keluarganya hidup mewah dan berkuasa lebih 4 dekade Demontrasi pecah di Benghazi menuntut Khadafi mundur.

Khaddafi menghadapi demontrasi dengan kekerasan. Korban berjatuhan. Situasi ini dijadikan momentum untuk menggulingkan Khaddafi. Pemerintahan transisi (NTC) dibentuk dengan pimpinan mantan loyalis khadafi. Ketua NTC, Mahmud Jibril adalah menteri kehakiman Khadafi sebelum demontrasi pecah. Dari peta segi tiga ini jelas bahwa kelompok revolusioner sangat menyadari bahwa mereka dibantu Barat, karena dengan bantuan Baratlah Khadafi dapat ditumbangkan. Sementara NATO juga yakin bahwa tanpa isu demokrasi dan HAM mereka tidak ada alasan menyerang Libya untuk menguasai minyak. Maka titik temu antara Perancis dengan kelompok revolusioner adalah: memberi kesempatan untuk tumbuhnya demokrasi, kebebasan dan Islam, sementara pemerintahan baru memberikan konsesi minyak kepada Barat.

Kalau dua kepentingan ini terganggu maka perang baru dengan Barat akan segera meletus. Mungkinkah Barat akan membiarkan Islam tumbuh dan berkembang? Mari kita ikuti perkembangan politik Libya pasca Khaddafi. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s