Berpegang Kuat Pada Prinsip Islam,Media Islam Dianggap ‘Radikal’

Berpegang Kuat Pada Prinsip Islam,Media Islam Dianggap ‘Radikal’

JAKARTA– Media Islam memiliki ciri khas tersendiri dalam
menyuarakan pesan-pesan Islam, oleh
karena itu media Islam memiliki
tanggungjawab besar yang memiliki bukti
otentik berupa teks yang bisa dibaca orang
kapan saja. Demikian yang diungkapkan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum
(ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya. “Media Islam yang tidak konsisten, tentu
saja akan dijauhi pembacanya. Sedangkan,
pembaca media islam bukan hanya dibaca
oleh orang Islam saja, tapi siapa saja. Tapi
bagi saya, apapun yang terjadi, prinsip harus
dipegang.

Situs Islam, seperti Voa-Islam dan ar-Rahmah tentu punya prinsip, sehingga ada
yang menilai situs tersebut dianggap terlalu
keras membela Islam dan para terorisme.
Tapi itu, kan anggapan orang luar saja,”
kata Mustofa. Lebih lanjut Mustofa mengatakan bahwa
apapun yang terjadi, media Islam harus
teguh memegang prinsip, tidak boleh
terganggu oleh suara-suara miring dari
pihak luar karena dalam dakwah hal itu
sudah biasa. “Tentu, dakwah di zaman Rasul dengan
sekarang berbeda. Di masa Rasulullah, yang
mendakwahkan Islam akan dilempar
kotoran hewan, tapi sekarang bukan lagi
kotoran hewan, tapi yang dilempar adalah
isu-isu miring,” ujarnya. Tak dipungkiri, media-media Islam yang
tidak ikut mendukung kampanye
pemerintah, akan dicap melawan
pemerintah. Begitu juga, media Islam yang
tidak mendukung program pemberantasan
terorisme, akan dianggap pro terhadap terorisme.

Ini sebuah dilema dan persepsi
yang salah. Mustofa mengungkapkan malah menjadi lucu
ketika media Islam tidak menoleh dan
membela kepentingan Islam. Memang, jika
dibandingkan dengan media umum, karakter
media Islam lebih mengetahui persoalan, jika
menyangkut keislaman. Maka sudah sepantasnya lah media yang mengetahui soal
islam itu menyuarakan kepentingan Islam. Mustofa menjelaskan jika membandingkan
media Islam dengan media umum sudah pasti
berbeda. Media umum hanya memberitakan
fakta apa yang dilihat (snapshoot),
sedangkan media Islam mengupas dibalik
semua peristiwa dan fakta itu, jadi tidak sekedar memberitakan fakta. “Media Islam memang punya karakter
tersendiri ketimbang media umum. Karena,
media Islam harus membela jika
menyangkut kepentingan Islam.” Media Islam yang hanya memberitakan fakta
adalah kesalahan besar.

Karena fakta itu
bisa dibuat. Termasuk, bom bisa dibuat oleh
siapapun. Tidak harus pelaku bom, karena
pelaku bom belum tentu sadar bahwa dia
mengebom. Bahkan yang harus diperhatikan media Islam
adalah, jika hanya menyampaikan fakta
semata, tidak mengupas apa dibalik fakta,
maka itu namanya tidak tabayun. Karena itu
ada istilah cross check (tabayun), dimana
sebuah fakta harus dicari pembandingnya. Setidaknya harus menjawab pertanyaan
kritis, apa benar ini tindakan terorisme, apa
benar ini bom bunuh diri, apa benar ini fakta
sesungguhnya? Inilah yang disebut sebagai
perimbangan atau kesimbangan. Mustofa menjelaskan bahwa keseimbangan
antara media Islam dengan media umum
juga berbeda. Media umum tidak akan
mengurai dibalik fakta sedetil media Islam,
hal tersebut dikarenakan media umum tidak
didorong oleh tabayun sebagai bentuk ibadah.

Sedangkan media Islam, tabayun itu
merupakan bagian dalam kerangka ibadah. Ghirah keislaman dari media Islam adalah
nilai plus, ketika media umum tidak memiliki
beban apa-apa, kecuali hanya semangat
bekerja saja dengan orientasi hasil. Secara
profit, media Islam belum tentu meraih
keuntungan, tapi secara syar’i, media Islam membawa pesan-pesan ibadah. Saat ini, para jurnalis muslim memang belum
memiliki panduan menulis tentang peliputan
kasus ‘terorisme’. Sehingga acapkali
terjadi kesalahpahaman dan dilema, ketika
melaporkannya dalam sebuah berita.
Sebagai contoh, istilah teroris menjadi diskusi panjang para jurnalis muslim. “Memang yang mengeluarkan istilah
teroris adalah pemerintah. Ini berkaitan
dengan tindak pidana UU Terorisme.

Dalam
hal ini, pemerintah mengekor dengan
keinginan pemerintah AS sejak tahun
2001.” Mustofa berpendapat bahwa media Islam
boleh saja menyebut teroris dalam “tanda
petik”. Terpenting, di dalam badan berita
itu harus menjelaskan. Sebagai ide, kenapa
tidak, jika media Islam mencoba
merekonstruksi istilah terorisme menurut kacamata redaksi masing-masing. “Bisa saja mengundang pimpinan media
umum untuk berdiskusi. Dalam diskusi itu,
bisa dibahas soal istilah terorsime, kelompok
bersenjata, makar dan sebagainya.
Barangkali, sesama jurnalis bisa menyatukan
persepsi, untuk menghindari terjadinya fitnah. Mengingat pemaksaan kata-kata
teroris, dapat menyebabkan timbulnya fitnah
yang menyakitkan.” Menurut Mustofa, media Islam punya hak dan
kewenangan, untuk memilih narasumber,
tergantung ciri khas medianya.

Terbukti
setiap media tidak sama dalam memilih
narasumbernya. Memang, seyogianya,
media Islam memilih narasumbernya, dan kalo bisa menghindari narasumber yang
tidak sesuai dengan visi-misnya. Jika tidak ada pilihan, seperti jumpa pers,
pengamat yang pro pemerintah (BNPT) ikuti
saja, tapi harus dicari pendapat lain, atau ada
pengimbangan. Media Islam hendaknya tidak
mentah-mentah menelan informasi atau
pendapat dari satu pihak. Ada baiknya, membagi porsi saja, misalnya pendapat pro
BNPT 20%, sedangkan pendapat lain 80%.
Intinya, media islam, harus pintar-pintar
memilih narasumber. Mustofa berharap agar umat Islam bersikap
arif dalam menyikapi kasus terorisme.
Bagaimanapun, semua pihak, termasuk
media Islam dipastikan tidak akan
menyetujui aksi pengeboman. Disinilah peran
media Islam yang notabene hanya membela, ketika Islam menjadi tertuduh. “Media Islam yang mengutip pendapat
ormas maupun tokoh Islam atas
ketidaksetujuan dari tindakan pengeboman,
tidak perlu dipersoalkan.

Tidak apa-apa, jika
yang disikapi aksi bomnya, tapi bukan
mengutuk agamanya. Media Islam yang memegang prinsip, dipastikan banyak
tantangan dan musuhnya. Itu sudah wajar.
Hal itu sekaligus untuk menguji media Islam,
apakah tumbang sampai di situ, atau akan
tetap menjalan visi misinya atau
istiqomah?” tandas Mustofa. Media Islam, hendaknya jangan melemah,
hanya karena tak tahan kritik dan upaya
untuk menakuti-nakuti, apalagi sampai luntur
dan berhenti ghirah keislamannya, akhirnya
membuat media Islam menjadi banci. Media
Islam yang tidak berani tegas, akan kehilangan kepercayaan (trust) dari
pembacanya. Terkait banyaknya opini yang dihembuskan
oleh pihak-pihak tertentu yang mencap situs-
situs Islam diangggap ‘radikal’, Mustofa
menolak dan menentang desakan itu. “Saya sangat menentang, ketika Menkoinfo
berkeinginan untuk menutup situs-situs jihad
dan sebagainya, meski akhirnya tidak
terjadi. Harus diakui, akan sulit dibedakan,
mana situs jihad, radikal, terorisme dan
kekerasan. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan memberi stigma kepada
situs-situs Islam.” Mustofa Arrahmah dan voa-Islam
sebenarnya situs yang biasa-biasa saja.

Kalau arrahmah atau Voa-Islam dianggap
sebagai situs radikal, setiap orang yang
membaca situs tersebut pasti besoknya akan
ngebom. Tapi ini kan tidak. Voa-Islam maupun Arrahmah tidak pernah menyuruh
siapapun untuk melakukan pengeboman. “Saya pernah istri saya buka situs voa
Islam dan ar Rahmah. Komentar istri saya,
situs itu biasa-biasa saja, tidak ada
keingianan untuk ngebom.” Sangat aneh, ketika situs Ar Rahmah dan Voa
Islam disamakan dengan situs porno, seperti
dikatakan Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj.
Bagaimanapun kedua situs Islam itu
berangkat dari hal yang suci, sedangkan
situs porno berangkat dari kejahatan. “Sangat tidak tepat dan keliru. Saya sangat
menentang sekali pendapat itu. Nanti, saya
akan merealese ucapan-ucapan para pejabat
dan tokoh agama yang begitu mudahnya
menjustifikasi. Saya kira statemen tokoh itu
adalah bentuk mencari muka, yang memanfaatkan momen.” Tidak hanya itu, bahkan berkali-kali Mustofa
mengingatkan para pengamat terorisme di
televisi, agar hati-hati menjustifikasi soal
celana ngatung, jenggot panjang, dan cadar,
seolah berbahaya dan mengkhawatirkan. “Koruptor di pengadilan saja, yang sehari-
hari tidak pernah pake cadar, seperti
Yulianis, menutupi wajahnya dengan cadar.
Di TV One, saya menilai Prof Sarlito membuat
kesalahan besar, dengan menjustifikasi
jenggot panjang dan celana ngatung sebagai ideologi berbahaya” ucapnya. Lebih lanjut Mustofa berpendapat sebenarnya
mereka bukan Islamophobi, mereka hanya
tidak paham. Bahkan pengamat yang keliru
biasanya dikarenakan ada kaitan dengan
proyek mereka dibidang riset, re-edukasi,
dan deradikalisasi yang pendanaannya diperoleh dari pemerintah. Dimana biasanya,
kalau sudah bicara proyek, analisanya
kadang menjadi tidak objektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s