Seakan-akan Zionis Israel Tidak Memiliki Peran Dalam Konflik Libya

Seakan-akan Zionis Israel Tidak Memiliki
Peran Dalam Konflik Libya

Assalamu’alaykum wr wb,

Dalam konflik di Libya, saat semua mata
tertuju kepada NATO dan AS. Apakah Zionis
Yahudi (Israel) betul-betul tidak memiliki
peran sama sekali dalam konflik ini? Atau
jangan-jangan ini hanya pengalihan isu dari
kekuatan New Wolrd Order yang ditutup- tutupi. Bagaimana tanggapan ustadz?
Syukron jazakalloh.
Hamba Alloh

Jawaban:

Alaykumsalam warrahmatullahi
wabarakatuh. Jazakallah atas
pertanyaannya saudaraku Hamba Alloh,
semoga kita senantiasa diberikan
perlindungan oleh Allah di masa-masa akhir
zaman seperti ini. Allahuma amin. Pertanyaan saudara bisa menjadi renungan
bagi kita semua, yakni apakah Zionis Yahudi
(Israel) tidak memiliki peran apa-apa dalam
permasalahan Libya? Karena dalam
pemberitaan yang berkembang, media-
media Barat kadung menyoroti peran Amerika Serikat beserta NATO dalam arus
konflik di negara kaya minyak tersebut.

Padahal kalau kita teliti secara mendalam,
kontribusi Israel dalam konflik di Libya
cukup tinggi. Bukti nyata itu sudah jauh-jauh hari
dilakukan oleh Zionis Yahudi untuk melobi
Amerika melakukan penyerangan dan
mendukung para pemberontak Libya. Salah
satunya, dimainkan oleh senator AS, Joseph
Lieberman, seorang aktor lobi Yahudi, yang menulis sebuah resolusi agar Amerika
Serikat mengakui dewan pemberontak
Libya sebagai pemerintah yang sah seperti
yang telah Perancis lakukan. Israel adalah Negara yang sangat
bekepentingan terhadap isu Libya. Dalam
skenario-nya, Israel memang berupaya
menjadikan Libya sebagai basis pertahanan
Zionis untuk memuluskan rencana mereka
menguasai basis Geopolitik Timur Tengah. Dengan menguasai Libya, Mesir, Tunisia, Al
Jazair, Somalia, dan Sudan, berarti Israel
akan mengukuhkan jalur kekuatan ekonomi
zionis di bagian Afrika.

Israel juga menyokong kedua fihak yang
tengah berseteru di Libya, baik pasukan
koalisi maupun basis kelompok pro Gaddafi.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu,
misalnya, bersama Menteri Pertahanan Ehud
Barak serta Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman, mereka pernah mengadakan
pertemuan tripartit pada 18 Februari dan
menghasilkan keputusan merekrut tentara
bayaran Afrika untuk bersama-sama
pasukan pro-Gaddafi melawan para
demonstran Libya.

Maka tak heran, juru bicara oposisi Libya,
Ahmad Shabani adalah orang yang tergolong
dekat dengan Israel. Kepada Koran Hareetz
Israel, (2/8/11), ia pernah meminta Israel
untuk turun tangan menengahi kondisi yang
berkecamuk di Libya. “Kami meminta Israel menggunakan pengaruhnya di
masyarakat internasional untuk mengakhiri
rezim tirani Gaddafi dan keluarganya,”
katanya. Sebaliknya bukti keterlibatan Israel di tubuh
pasukan pro Gaddafi juga bukan isapan
jempol semata. Pasukan oposisi Libya di
Misratah pernah menunjukkan fakta yang
mengejutkan. Mereka menemukan senjata
yang berhasil disita dari pendukung Gaddafi yang jelas-jelas menunjukkan produksi
buatan Israel. Kabar mengenai hubungan pemerintahan
Gaddafi dengan zionis Israel memang sudah
lama beredar. Pada tahun 2007, misalnya,
rezim Gaddafi pernah menawarkan
sejumlah besar uang untuk pembentukan
sebuah “partai politik Libya” yang akan maju dalam pemilu Knesset Israel pada
tahun 2009 lalu. Gaddafi sendiri disinyalir
masih memiliki darah keturunan Yahudi.

Lantas pertanyaannya adalah mengapa
Israel seakan-akan berdiri dalam dua arus
pusara konflik antara milisi Pro Gaddafi
dengan kaum oposisi? Dalam analisa saya,
minimal ada dua kepentingan dibalik itu
semua. Pertama, Israel pada dasarnya bukan pada posisi untuk bermaksud
mendukung rezim Gaddafi, namun semata-
mata bertujuan untuk mengadu domba
antara sesama muslim di Libya. Analisa kedua adalah Israel tahu betul
sebuah kekuatan milisi muslim lainnya akan
sangat berpotensi memimpin Libya setelah
Gaddafi tumbang. Bayangkan Libya adalah
negara Timur Tengah yang berpotensi
menyiptakan basis-basis mujahidin untuk melawan hegemoni Israel.

Darna, misalnya, adalah kota di Libya timur
yang merupakan basis Islamis terkuat yang
pada tahun 90-an pernah melancarkan
kudeta yang gagal atas pemerintahan
Gaddafi. Dari kota inilah sebagian besar
mujahidin Libya yang berada di medan jihad di seluruh dunia berasal. Hingga Almarhum
Abu Musab Zarqawy pernah mengatakan
ingin mengunjungi Darna karena hanya dari
kota inilah lahir ratusan jihadi di Irak. Maka itu bagaimanapun Israel harus bisa
memastikan, oposisi yang nanti naik tidak
memiliki ideologi dakwah-jihadi untuk
menggantikan seluruh tata nilai di Libya
dengan sistem Islam. Karenanya, tak heran
Israel akan terus mendekati pasukan oposisi untuk tunduk. Bahkan Juni lalu, penulis Prancis yang dekat
dengan Zionis, Bernard-Henry Levi kepada
NTC di Benghazi, sudah meyakinkan pihak
oposisi anti-Gaddafi (NTC) untuk menjalin
hubungan diplomatik dengan Israel demi
memastikan keberlangsungan dukungan NATO.

Ia secara teang benderang
menyatakan bahwa jika menang atas
pasukan Gaddafi, pihak oposisi akan
menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Allahua’lam. (Muhammad Pizaro Novelan
Tauhidi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s