Menangkis Buku Hujatan Syaikh Idahram terhadap Salafi Wahabi

Menangkis Buku Hujatan Syaikh Idahram terhadap Salafi Wahabi

Jakarta– Belakangan beredar tiga buku kontroversial yang diterbitkan oleh Pustaka Pesantren berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafai Wahabi, Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi. Ketiga buku tersebut dikarang oleh seorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Isinya penuh dengan caci maki dan gugatan terhadap apa yang disebut dengan Gerakan Salafi Wahabi.

Akibat beredarnya buku Syaikh Idahram itu, sebuah kegiatan pengajian ditutup, karena dituduh Wahabi. Padahal, apa yang disebut dengan Wahabi itu tidak jelas definisinya. Sangat dirasakan, masyarakat awam diadu domba oleh buku fitnah semacam itu. Di masjid-masjid warga NU juga sering ditemukan spanduk-spanduk yang isinya bertuliskan “Melawan Salafi Wahabi”. Di Jawa Timur, beberapa ormas Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sudah mengalami tekanan dan resistensi dari oknum-oknum PWNU Jatim. Inilah akibat fitnah yang ditebarkan, ketika definisi Salafi Wahabi masih terlalu abstrak alias tidak jelas.
Dengan kata lain, kriteria- kriteria perihal Salafi Wahabi dilakukan secara sepihak, siapa sesungguhnya yang dimaksud dalam kategori Salafi Wahabi. Bagi masyarakat awam, tentu tak bisa membedakan mana Salafi Wahabi dan mana yang bukan. Alhasil, terjadilah anarkis dan salah alamat dalam memetakan masalah. Fatal. Adalah Abu Muhammad (AM) Waskito – yang bukan dari kalangan Wahabi – merasa terpanggil untuk menulis buku bantahan kritis dan Fundamental terhadap buku propaganda karya Syaikh Idahram yang berjudul Bersikap Adil kepada Wahabi (penerbit Pustakan Al-Kautsar.

Menurut AM Waskito, kalau sekadar kritik yang obyektif tentu tak masalah. Karena setiap orang dan kelompok bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong, bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah. “Sebagai manusia, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tentu tak lepas dari dosa dan khilaf. Sebagai gerakan dakwah, Wahabi bukanlah tempat berkumpulnya para malaikat yangterjaga dari dosa.

AM Waskito menciup aroma buku-buku yang ditulis Syaikh Idahram disusupi “penumpang gelap” dibalik kampanye anti
Wahabi. Mereka taklain adalah kelompok Syiah dan kelompok yang menjajakan paham Sepilis (Sekualrisme, Pluralisme dan Liberalisme). Akibatnya, kritik terhadap Wahabi tak lagi jernih, tapi sudah keruh oleh berbagai macam kepentingan. Siapa Salafi Siapa Wahabi? Sebelum membedah buku Bersikap Adil Kepada Wahabi, terlebih dulu mengetahui sosok AM Waskito, sang penulisnya. Abu Muhammad Waskito adalah penulis dan pengamat yang cukup produktif dalam melahirkan buku-buku bertema otokritik terhadap gerakan dakwah. Bukunya yang berjudul Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar mendapat sambutan positif dari para pembaca, khususnya para pegiat dakwah.

Buku tersebut adalah kritiknya terhadap fenomena sekelompok orang yang mengaku mengusung dakwah salafiyah, namun jauh dari sifat-sifat salafus shaleh yang mengedepankan akhlakul karimah dalam berdakwah. Buku lainnya yang ditulis AM Waskito – yang membuat kalangan salafi gempar – adalah yang berjudul Wajah Salafi Ekstrem di Dunia Internet: Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan (Penerbit Ad-Difa Press, 2009). Perlu diketahui, AM Waskito tak pernah menyebut dirinya Wahabi atau bagian
dari kelompok Wahabi.
Sehingga apa yang ditulis dalam buku bantahan terhadap karya Syaikh Idahram, terjaga netralitasnya dan bukanlah pembelaan yang membabi-buta terhadap Wahabi. “Buku bantahan ini bukan karena ingin membela Wahabi, tetapi membela prinsip- prinsip Islam yang sering dilanggar oleh kaum anti Wahabi,” kata Waskito dalam pengantarnya. Perbincangan soal sepak terjang kelompok yang dituduh sebagai Wahabi belakangan ini menjadi buah bibir di masyarakat, khususnya umat Islam. Meski kelompok yang dituduhkan tidak pernah mengklaim bahwa gerakan dakwah mereka bernama Wahabi. Namun, kelompok yang anti Wahabi menggunakan istilah Wahabi untuk memudahkan stigmatisasi kepada mereka yang terpengaruh oleh dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tersebut.

Jika sebelumnya populer dengan sebutan Wahabi, kini ada tambahan kata menjadi Salafi Wahabi. Beredarnya buku Trilogi Menggugat Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram, kian memperkokoh stigmatisasi tersebut dengan apa yang disebut Salafi Wahabi. Sangat disesalkan, Ketiga buku Syaikh Idahram yang bermuatan provokasi, fitnah dan adu domba ini, malah mendapat dukungan penuh dari Ketua Umum Pengurusa Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH. Said Agil Siraj, dan mendapat endorsement (persetujuan) dari tokoh-tokoh Islam seperti Ustadz Muhammad Arifin Ilham (pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra) dan KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat). Boleh jadi karena ketidak- telitian kedua pihak, yang tak punya waktu untuk membedah dan mendiskusikannya. Stigmatisasi Wahabi Jika menengok ke belakang, organisasi massa Islam seperti Al-Irsyad Al-Islamiyah, Persatuan Islam (Persis), dan Muhammadiyah juga sering dituding dan disebut-sebut sebagai bagian kelompok Wahabi.

Begitu juga dengan ulama-ulama terdahulu di negeri ini, seperti KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, Buya Hamka, Mohammad Natsir dan lain-lain juga tak luput dari stigma Wahabi. Jauh sebelum itu, Tuanku Imam Bonjol dan Pengeran Diponogoro juga disebut-sebut terpengaruh ajaran Wahabi. Namun, perlu ditegaskan, bahwa organisasi-organisasi islam tersebut, berikut para ulamanya, tak pernah mendeklarasikan diri mereka sebagai Wahabi. Menurut AM Waskito, apa yang ditulis Syaikh Idahram tak ubahnya seperti strategi devide et impera (politik pecah belah) yang dulu kerap dipraktikkan colonial Belanda dan direkomendasikan oleh Snouck Hurgronje demi melemahkan kekuatan umat. Buku bantahan yang ditulis Waskito, setidaknya mengingatkan kaum Muslimin di Nusantara, agar berhati-hati dengan beredarnya buku-buku propaganda. Munculnya buku-buku Syaikh Idahram memiliki kepentingan-kepentingan politik jangka pendek.

Misalnya saja, ada sebagian orang Indonesia menjadi agen-agen kepentingan asing (bisa Amerika, Iran dll). Lalu mereka menyebarkan paham permusuhan terhadap dakwah Islam menuruti kemauan negara-negara asing tersebut. (Desastian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s