Ada Infiltrasi Intelijen Asing dalam Kasus Solo?

Ada Infiltrasi Intelijen Asing dalam Kasus
Solo?

Assalamu’alaykum wr wb
Akhi… Bagaimana dengan dugaan infiltrasi intelijen
dalam kasus Solo. Apakah memang bisa
mereka disusupi, bukankah di internal
Mujahidin sudah bisa menidentifikasi
intelijen?Apa ada indikasi keterlibatan
Mossad dalan hal ini? Lalu apa yang bisa kita lakukan? Syukron jazakalloh,

wassalamu’alaykum wr
wb.
Abdul

Jawaban:
Alaikumsalam Warahmatullah
Wabarakatuh.

Jazakallah untuk
pertanyaannya saudaraku Abdul. Semoga
Allah senantiasa memberikan perlindungan
bagi kita untuk senantiasa tidak termakan
bujuk rayu kaum kuffar. Allahuma amin Saudaraku, dunia Intelejen saat ini tidak
terlepas dari war on terorisme yang
digulirkan barat. Intelijen akan melakukan
berbagai cara untuk memukul mundur
barisan Islam. Mereka masuk ke kelompok-
kelompok Islam dan melakukan tipudaya.

Saya sendiri meragukan bahwa aksi yang
dilakukan di Solo adalah betul-betul
dilakukan mujahidin. Karena mujahidin yang
betul-betul memahami fiqh jihad tidak
mungkin membom sasaran sipil non
kombatan. Rasulullah SAW sendiri juga melarang kita merusak tempat ibadah. Intelijen memang sangat canggih, untuk
masuk ke barisan umat muslim mereka
membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dari
mulai mempelajari Islam, menguasai
percakapan antara sesama ikhwan, sampai
menumbuhkan jenggot.

Walhasil kita heran, apakah mungkin aksi
pemboman di Solo kemarin ulah intelijen,
kalau iya mengapa pelaku sampai
melakukan bom bunuh diri? Jawabannya
adalah wallahua’lam. Namun saya
cenderung mengatakan iya. Bagaimana caranya? Mudah. Sekarang hampir semua
kelompok Islam ditempel intelijen. Gerakan-
gerakan Islam sudah dipetakan dalam
kuantitas data yang mereka miliki. Sosok intelijen dalam gerakan Islam sendiri
bukan barang baru, yang paling terkenal
adalah Mayjen TNI Ali Moertopo, walaupun
ia belum pernah menduduki posisi puncak di
lembaga intelijen Indonesia. Secara resmi,
Ali Moertopo pertama kali berkiprah di dalam lembaga intelijen negara pada tahun
1969-1974, ketika Mayjen TNI Sutopo
Yuwono menjabat sebagai Kepala BAKIN.
Saat itu, ia mendampingi Sutopo Yuwono
sebagai Deputi Kepala BAKIN.

Sebelum bergabung ke dalam TNI, Ali
Moertopo pernah bergabung dengan laskar
Hizbullah, salah satu unsur cikal bakal TNI.
Danu M. Hasan adalah salah satu anak buah
Ali di Hizbullah. Ketika Ali masuk TNI, Danu
bergabung ke dalam DI/TII dan menjadi orang kepercayaan Imam Negara Islam
Indonesia (NII), Sekarmadji Maridjan
Kartosoewirjo. Danu M. Hasan sempat
menjabat Komandemen DI/TII se-Jawa.
Kelak, pasukan Danu berhasil ditaklukkan
oleh Banteng Raiders yang dikomandani Ali Moertopo. Perjalanan berikutnya, pasca-penaklukan,
terjalinlah hubungan yang lebih intensif
antara Ali dengan Danu di dalam kerangka
“membina mantan DI/TII.” Pada
persidangan kasus DI/TII (tahun 1980-an)
diketahui bahwa Ali Moertopo secara khusus menugaskan Kolonel Pitut Soeharto untuk
menyusup ke golongan Islam, antara lain
dengan mengecoh Haji Ismail Pranoto
(Hispran) di Jawa Timur.

Di Jawa Barat, Pitut
mendekati Dodo Kartosoewirjo dan gagal,
tetapi berhasil membina Ateng Djaelani yang kemudian di kalangan petinggi DI/TII
dianggap sebagai pengkhianat. Dalam dunia inteljien ada istilah yang
dinamakan ‘sumbu pendek’. Ia mengacu
kepada individu umat muslim yang mudah
meletup, terpancing, dan bisa diprovokasi.
Pada konteks Solo dan Cirebon tidak
menutup kemungkinan intelijen masuk untuk membakar ‘sumbu pendek’ yang
memang telah mereka pelajari.

Intelijen mencari ‘sumbu pendek’ yang siap Saya yakin, intelijen sudah menyisir jauh-
jauh hari sekaligus mendalami psikologi
umat yang memiliki potensi sebagai
‘sumbu pendek’. Mereka lantas didekati
dengan intelijen yang meski bertampang
ikhwan tapi memiliki misi menghancurkan Islam. Seperti serigala berbulu domba. Saat
itulah mereka akan masuk dan melakukan
provokasi dari dalam untuk mengentaskan
misinya. Sayangnya banyak para ikhwah di
lapangan yang menutup mata dari
konspirasi intelijen. Padahal keberadaan mereka nyata dan ada didepan kita. Kita
bisa belajar dari Syahidnya Syekh Ahmad
Yassin, misalnya. Dalam buku, mengapa “Mereka Membunuh
Syaikh Ahmad Yassin” (Moh. Safari. Et.al,
Comes: 2006) dikatakan bagaimana beliau
bersama dua pengawalnya dibunuh oleh Heli
Israel ketika baru saja pulang dari mesjid
Ja’ma Islami sesaat setelah pulang shalat shubuh.

Koresponden COMES di Gaza menyebutkan
bahwa kehadiran heli-heli tempur Israel
sangat mengejutkan ketiga pejuang
tersebut. Karena seketika itu juga, pesawat-
pesawat Zionis melepaskan 3 rudal kearah
Syaikh dan kedua pengawalnya, hingga terdengar ledakan besar mengguncang kota
Gaza. Tentunya, mengapa Heli Israel bisa tiba-tiba
dapat mengidentifikasi kehadiran Syeikh
dan melepaskan rudal tepat sasaran.
Padahal tubuh Syeikh Yasin selama ini susah
ditembus oleh Mossad. Maka saya ingin
katakana bahwa momentum tewasnya Asy Syahid, tidak lepas dari mata-mata yang
intens dilakukan Mossad selama bertahun-
tahun. Mereka mempelajari kebiasaan Asy
Syahid, orang terdekat Asy Syahid, waktu
shalat Asy Syahid, sampai jalan yang biasa
digunakan.

Begitu jua dengan kasus pembunuhan
seorang komandan Hamas, Mahmud Mabhuh
di Dubai pada awal tahun 2010. Mahmud
memasuki Uni emirat Arab pada pekan
ketiga tanggal 19 Januari yang lalu, namun
tubuhnya ditemukan telah tewas di sebuah hotel tempat ia tinggal selama di Dubai. Kedatangan Mabhuh di Dubai bisa sampai
bocor ke telinga Mossad karena Hamas tidak
menyadari, bahwa agen Mossad telah
melakukan operasi desepsi dan menjadi kan
salah seorang agennya untuk berpura-pura
menjadi “Ikhwan” dan menempel ketat informasi dari Hamas. Inilah yang sebenarnya sudah
dikhawatirkan Jenderal (purnawirawan)
Z.A. Maulani (almarhum) yang meminta
umat untuk hati-hati terhadap operasi
intelijen yang menggunakan strategi
desepsi.

Fauzan Al Anshari, dalam tulisannya Desepsi di Majalah Gatra [Edisi 39 Beredar
Kamis, 10 Agustus 2006] menceritakan
bagaimana inflitrasi Androkinus Kaparang,
seorang intel CIA ke tubuh Majelis Mujahidin
Indonesia. Sekitar September 2001, Kaparang yang
kala itu mengaku seorang mualaf datang ke
markas MMI. Ia mengaku bernama Lalu
Muhammad Hasan alias Ihsan. Nama aslinya
Andronikus Kaparang. Ia mengklaim sebagai
Komandan Laskar Kristus wilayah Indonesia Timur. Ia mengaku disuruh CIA untuk
mencari data hubungan MMI dengan Osama
bin Laden, mengetahui aliran dana yang
masuk-keluar MMI, dan melihat sejauh mana
keterlibatan MMI dalam konflik Ambon. Pada 21 September 2001, kantor Wihdah,
tempat menyimpan banyak data MMI,
dibobol maling.

Empat komputer lenyap.
Irfan pun melaporkan kejadian itu ke polisi.
Namun sampai detik ini tidak berhasil
mengungkap siapa malingnya. Pada 8 Juli 2006, ada acara Arimatea yang
menggelar “testimoni mantan Komandan
Laskar Kristus” di Solo. Ustad Abu diundang
sebagai keynote speaker. Beberapa laskar
MMI datang untuk menonton testimoni itu.
Namun apa yang terjadi ternyata Kaparang yang didaulat untuk memberokan testimono.
Dalam pada itu, hampir terjadi insiden kalau
saja tidak dicegah Ustad Abu. Ustad Abu pun
akhirnya minta supaya diselesaikan di
markas MMI. Esoknya Kaparang diantar ke markas MMI
oleh pengurus Arimatea untuk klarifikasi.
Kaparang mengaku agen CIA. Dia minta
maaf karena sudah memfitnah MMI.
Misalnya, waktu aktif di kelaskaran, dia
sengaja menzinai beberapa wanita untuk mencoreng nama MMI. Tapi semuanya gagal. Walhasil inilah yang harus menjadi concern
kita semua, bahwa pengetahuan mengenao
kontra terorisme menjadi sebuah kebutuhan
mendesak untuk kita kaji bersama-sama.

Allahua’lam
(Muhammad Pizaro Novelan
Tauhidi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s