AIDS : Allah Ingin Dunia Sadar

AIDS : Allah Ingin Dunia Sadar

Hari AIDS sedunia kembali diperingati. Tak
ada yang terlalu spesial di hari itu, bahkan
sebagian masyarakat mungkin lupa atau
malah tidak tahu jika tanggal 1 Desember
selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan ini hanyalah sebatas seremonial belaka.
Berkali-kali sudah hari AIDS diperingati
namun ternyata penderita AIDS pun tak
kunjung berkurang kuantitasnya, malah
semakin bertambah.

Departemen Kesehatan memperkirakan, 19
juta orang saat ini berada pada risiko
terinfeksi HIV. Sedangkan berdasarkan data
Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah
penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per
Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Angka tersebut meningkat tajam bila dibandingkan
jumlah penderita HIV/AIDS sepanjang 2008
yang mencapai 22.262 orang. Tentu saja jumlah ini ibarat fenomena
gunung es, puncaknya saja yang terlihat
namun angka sebenarnya jauh lebih besar.
Karena masih banyak lagi orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) yang belum terdata
lantaran takut dan malu.

Banyak pihak yang mencoba memberikan
solusi, namun solusi yang diberikan sifatnya
tambal sulam dan dijamim tidak akan
pernah menyelesaikan tuntas masalah.
Misalnya solusi kondomisasi. Jika kritis
melihat sebenarnya ini bukanlah solusi tetapi pembohongan publik yang
membahayakan. Fakta ilmiah telah
membuktikan bahwa kondom tidak mampu
menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Bagaimana kondom bisa mencegah HIV/
AIDS, sementara diameter virus HIV jauh
lebik kecil daripada pori-pori kondom.

Ternyata lebar pori-pori kondom adalah
1/60 mikron dan dalam keadaan renggang
akan melebar 10 kali lipat. Sementara ukuran virus HIV 1/250. Saat kondisi normal
pori-pori kondom dapat dimasuki 4 virus
HIV sementara dalam keadaan renggang
dapat dimasuki 40 virus HIV. Namun
mengapa kondom terus disosialisasikan
bahkan dibuat ATM kondom? Selain kondomisasi adalagi solusi lain yang
dianggap mampu untuk sedikit menekan
penyebaran virus HIV dan memberikan
secerca kebahagiaan untuk mereka yang
terlanjur teridap virus HIV.

Dengan alasan
kemanusiaan masyarakat dihimbau untuk tidak mengucilkan ODHA dan hidup berbaur
bersamanya. Maka muncullah jargon
“Hidup Aman Bersama ODHA”. Intinya
jangan ragu berinteraksi dengan ODHA
karena mereka juga punya hak asasi untuk
hidup dan bergaul. Padahal dalam perspektif Islam orang yang
mengidap penyakit (apalagi penyakit
menular) harus dikarantina dan tidak
dibiarkan berinteraksi bebas dengan
masyarakat. Sebagaimana Rasul menyuruh
menjauhi orang yang menderita penyakit lepra.

Ini tidak bisa dipandang sebagai
bentuk diskriminasi terhadap penderita
AIDS, tetapi ini adalah langkah pencegahan
agar penyakit itu tidak tersebar. Ada ketidakadilan dibalik kampanye ini, Jika
kita tidak boleh mengucilkan ODHA mengapa
perlakuan yang sama tidak diterapkan pada
pasien flu burung? Mereka diisolasi dan
ditempatkan pada ruang khusus. Bahkan
ketika sudah meninggal, semua pengantar jenazahnya wajib memakai masker.
Padahal, penularan antarmanusia belum
terbukti, kecuali penularan dari unggas yang
terinveksi virus H5N1 kepada manusia. Tapi,
untuk kasus flu burung, mengapa tak disebut
sebagai bentuk perlakuan diskriminasi? Sebelum memberikan obat, terlebih dahulu
harus didiagnosis apa sebenarnya yang
menjadi latar belakang munculnya penyakit
AIDS.

Permasalahan AIDS tidak cukup jika
hanya diterawang dari sudut pandang dunia
kedokteran saja. Karena jika dipandang dari sudut pandang medis belaka maka bisa
ditebak solusi apa yang akan diberikan. Ya,
solusinya pasti hanya berkutat pada
rekayasa teknologi agar mampu
menemukan formula pengobatan yang bisa
menyembuhkan penderita AIDS. Padahal permasalahan AIDS tidak sesederhana itu. Diperlukan analisis radikal dan mendalam
dari sudut pandang yang berbeda sehingga
mampu mlahirkan solusi yang fundamental. Salah satu metode analisis yang “tidak
biasa” namun menjanjikan solusi yang
gemilang adalah menyelesaikan
permasalahan ini dalam perspektif Islam.

Jika dilihat kemunculan AIDS serta factor-
faktor yang menyebabkan tersebarnya virus mematikan ini semua berasal dari
aktivitas yang melanggar syariat Allah.
Misalnya awal kemunculan AIDS ini berasal
dari kaum homoseksual. Padahal dalam
pandangan Islam homoseksual adalah
perbuatan yang sangat diharamkan. Selain itu budaya seks bebas juga menjadi
katalisator yang mempercepat penyebaran
AIDS. Merebaknya budaya seks bebas akibat
diadopsinya paham hidup liberal, paham
hidup yang menjunjung tinggi kebebasan.

Doktrin kebebasan yang kebablasan ini telah mampu menggantikan norma-norma luhur
agama. Syariat Islam dimandulkan
peranannya dan hanya mengurusi hubungan
manusia dengan pencipta dan tak lagi
diberikan porsi mengatur pergaulan antar
sesama manusia. Walaupn permasalahan AIDS sudah begitu
akut, namun yakinlah tak ada masalah yang
tidak bisa diselasaikan oleh Islam. Islam
selalu tampil menawarkan solusi brilian
yang akan menyelesaikan masalah hingga
tuntas, termasuk penyebaran AIDS. Syariat Islam telah memberikan tugas
kepada tiga komponen untuk berjuang
menuntaskan problematika AIDS yang
semakin akut.

Pertama adalah individu,
syariat Islam telah mewajibkan individu
muslim untuk menjaga kemuliaan dirinya. Misalnya dengan anjuran hidup besih dan
kewajiban menutup aurat. Seks bebas
muncul akibat dorongan naluri yang tak
terbendung lagi. Naluri tersebut tidak
mungkin bangkit jika tidak ada rangsangan
eksternal. Jika saja tiap individu menjaga kemuliaannya (aurat) maka perilaku gaul
bebas dapat dibendung. Kedua jamaah dakwah. Komponen ini juga
sangat penting. Merekalah yang akan
bergerak ditengah masyarakat dengan
manajemen gerak yang sistematis untuk
melakukan proses pembinaan ditengah-
tengah umat.

Jamaah dakwah ini harus mampu menciptakan kesadaran public agar
umat ikhlas menjadikan aturan Islam
sebagai satu-satunya aturan yang layak
diterapkan ditengah-tengah mereka. Komponen pertama dan komponen kedua
telah melakukan kerja yang begitu massif.
Saat ini tak sulit menemukan wanita
berpenampilan syar’I dengan balutan
jilbab dan kerudung. Sangat mudah pula
menjumpai majelis-majelis ilmu yang berusaha menlakukan pencerdasan dan
penjernihan pemikran umat. Namun mengapa problem AIDS khususnya,
tak kunjung usai?

Karena ternyata peran
komponen ketiga yaitu negara saat ini
belum terlalu efektif. Dalam perspektif
syariat Islam negara adalah komponen yang
sangat vital dan memegang peranan penting untuk melakukan penjagaan terhadap
rakyatnya. Negara wajib menutup semua cela yang
mungkin dpat dijadikan sebagai pintu masuk
paham-paham desktruktrif seperti
liberalisme dan sekularisme. Contoh
taktisnya adalah mengawasi konten-konten
media. Karena media sangat berperan aktif untuk membentuk pola pikir dan pola sikap
masyarakat.

Sayangnya saat ini negara
belum menjalankan perannya secara
maksimal. Masih banyak meida-media yang
mengeksploitasi seksualitas sebagai daya
pemikatnya. Semakin terbukti tidak ada obat yang paling
mujarab untuk membendung sekaligus
menuntaskan permasalahan AIDS kecuali
kembali kepada syariat Allah. Bisa jadi
fenomena AIDS ini adalah bentuk teguran
Allah kepada manusia yang sudah telalu jauh berpaling dari aturan-Nya. Maka wajar saja
jika ada yang meplesetkan kepanjangan
AIDS menjadi Allah Ingin Dunia Sadar.

Adi Wijaya ;
Koordinator SENADA (Sekolah Pena Dakwah) Wilayah Indonesia Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s